Category Archives: Linguistik

MENGENAL SISTEM EJAAN BAHASA INDONESIA

Standard

Sebelum mempelajari bahasa asing, kita sendiri sebagai penutur bahasa Indonesia penting dan perlu untuk memahami sistem ejaan bahasa Indonesia. Apakah selama ini kita telah menggunakannya dengan baik? Yuk, kita simak bersama!

  1. PENGERTIAN SISTEM EJAAN BAHASA INDONESIA

Sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang menggunakan ejaan yang benar. Ejaan adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana ucapan atau apa yang dihasilkan oleh seseorang ditulis dengan perantaraan lambang-lambang atau gambar-gambar bunyi (safioedin, 1992:17)

Informasi tidak hanya kita dapatkan secara lisan, namun juga secara tulisan. Kita tentu seringkali mendapat informasi yang tidak bisa disampaikan secara lisan, tetapi harus secara tulisan. Pada intinya, sistem ejaan adalah cara melambangkan bunyi bahasa ke dalam bentuk tulisan. Jadi, Sistem Ejaan Bahasa Indonesia adalah tata cara melambangkan bunyi-bunyi bahasa yang telah disepakati, dimengerti dan digunakan secara resmi oleh rakyat Indonesia.

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN SISTEM EJAAN BAHASA INDONESIA

Berikut ini adalah paparan singkat mengenai berbagai sistem ejaan yang pernah diterapkan di Indonesia secara berurutan:

1) Sistem Ejaan Van Ophuysen

Dahulu, setiap daerah di Indonesia pada zaman kerajaan Sriwijaya memiliki bahasa yang berbeda satu sama lain. Hal ini menyebabkan setiap suku di berbagai daerah memiliki cara penulisan yang berbeda-beda. Tetapi, setelah itu Van Ophuysen diperintahkan untuk menyatukan berbagai ejaan di nusantara dan menyusun ejaan Melayu dengan menggunakan huruf Latin. Van Ophuysen mengeluarkan sebuah pembakuan dalam sistem ejaan yang kemudian dibuat ke dalam sebuah kitab yang berjudul “Logat Melajoe”.

2) Sistem Ejaan Soewandi/Sistem Ejaan Republik

Ejaan Soewandi secara resmi diberlakukan sebagai pengganti dari Ejaan Van Ophuysen pada tahun 1947. Ejaan Soewandi merupakan hasil perbaikan dari Ejaan Van Ophuysen.

Pada Kongres Bahasa Indonesia kedua, Prof. Dr. Prijono mengajukan prasaran? dasar-dasar Ejaan Bahasa Indonesia. Menurut beliau, Ejaan Bahasa Indonesia perlu menggunakan huruf Latin. Namun, karena besarnya biaya perombakan mesik tik yang sudah digunakan bangsa Indonesia saat itu, maka hasil pemikiran tersebut tidak pernah diresmikan.

3) Sistem Ejaan yang Disempurnakan

Pada tanggal 16 Agustus 1972, pemerintah akhirnya meresmikan sistem ejaan baru yang merupakan hasil penyempurnaan dari beberapa sistem ejaan yang pernah ada sebelumnya. Sistem Ejaan yang Disempurnakan masih berlaku sampai saat ini dan merupakan jati diri bangsa Indonesia.

Untuk menyosialisasikan Ejaan yang Disempurnakan ini pemerintah pada masa itu mengedarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

 

  1. KARAKTERISTIK DARI SETIAP SISTEM EJAAN YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA 1)Ejaan Van Ophuysen

Ejaan Van Ophuysen masih memiliki karakteristik bahasa Belanda yang sangat kental. Beberapa karakteristik yang menonjol dari sistem ejaan ini adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan tanda diakritik seperti koma ain, koma wasla dan tanda diatrema.
  2. Huruf [j] yang dibaca [y]. Contohnya ja’in, loemajan, saja, sajoer.
  • Huruf [u] yang ditulis [oe]. Contohnya oe’oer, oempan, ‘oerang, haroem.
  1. Gabungan huruf [kh] yang ditulis [ch]. Contohnya choesoes, chalifah, chali’.
  2. Huruf [c] yang ditulis dengan huruf [tj]. Contohnya tjelana, tjinta, tjuma, rantjoe.
  3. Huruf [j] yang ditulis dengan [dj]. Contohnya mandja, madjoe, belandja, sadja.
  • Menggunakan tanda trema yang digunakan untuk menandakan dua huruf vokal yang berurutan tetapi beda suku kata. Contoh maüt.

 

2) Ejaan Suwandi

Beberapa karakteristik yang menonjol dari sistem ejaan ini adalah sebagai berikut:

  1. Huruf [oe] diganti menjadi [u] saja. Contohnya mau, umpan, harum.
  2. Tanda hamzah (‘) diganti menggunakan huruf [k].
  • Membolehkan kata ulang disingkat dengan menggunakan lambang pengulang seperti angka “2” dengan syarat harus menggunakan tanda strip (-) apabila diawali dan diakhiri dengan imbuhan. Contohnya ke-biru2-an, ter-pincang2, nama2, kupu2, me-lihat2.
  1. Preposisi di- untuk menunjukkan tempat, dan awalan di- untuk menyatakan tindakan pasif keduanya ditulis tanpa menggunakan spasi dan bergabung dengan kata dasarnya. Contoh : dimakan, dirumah, dikamar, dicuci.

3) Ejaan yang Disempurnakan

Beberapa karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Semua fonem dilambangkan hanya dengan satu huruf kecuali [kh], [ny], dan [ng].
  2. Huruf serapan asing seperti [f],[v] dan [z] diresmikan sebagai huruf Bahasa Indonesia.
  • Huruf yang pada umumnya digunakan dalam penelitian seperti [x] dan [q] tetap digunakan.
  1. Penulisan imbuhan di- dibedakan penulisannya antara di- yang digunakan untuk preposisi dan di- yang digunakan untuk kata depan.
  2. Kata ulang ditulis tanpa menggunakan tanda pengulangan seperti menggunakan angka “2” diakhir kata, tetapi ditulis penuh dengan mengulang katanya. (FS)

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kurniawan, Irwan. 2015. EYD Ejaan Yang Disempurnakan. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia.

Kusumaningsih, Ningrum. 2013. Terampil Berbahasa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Andi.

http://sharingmahasiswa.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-ejaan-kata-dan-unsur-serapan.html

http://muhammadfahliadi.blogspot.co.id/2013/09/pengertian-ejaan.html

http://ejaanindonesia.blogspot.co.id/

http://fitriaapriliaismail.blogspot.co.id/2011/10/sejarah-perkembangan-ejaan-di-indonesia.html

https://hestilawinisari.wordpress.com/2011/11/14/jenis-ejaan-yang-pernah-digunakan-di-indonesia/

http://matematika-nondik10unimed.blogspot.co.id/2013/05/kelompok-1.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/ejaan_melindo

https://id.m.wikipedia.org/wiki/ejaan_pembaharuan

Grafem dan Jenis Aksara

Standard

Seringkali kita mendengar istilah-istilah seperti huruf, grafem dan aksara. Jika kita membicarakan ketiga hal tersebut, maka kita juga membicarakan mengenai tulisan.

Tulisan merupakan representatif dari bahasa lisan yang bersifat sekunder. Pada hakikatnya, bahasa merupakan perwujudan bunyi. Dengan kata lain, manusia dapat berkomunikasi tanpa tulisan. Namun pada kehidupan modern sekarang ini, peran dan fungsi tulisan sangatlah besar. Bahkan seringkali perkembangan suatu masyarakat dikaitkan dengan kemampuannya membuat sistem tulisan atas bahasa lisannya.

Jika bahasa lisan berkaitan dengan bunyi, maka bahasa tulis tentu berkaitan dengan huruf. Pembahasan mengenai huruf ini dipelajari di bidang grafologi.

Secara etimologis, kata “grafologi” berasal dari kata graf, yaitu satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya, dan logos, yang berarti ilmu.

Dalam bidang grafologi, terdapat istilah grafem yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah satuan terkecil sebagai pembeda dalam sebuah sistem aksara. Grafem lebih tepatnya dapat diartikan sebagai satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata ataupun morfem, tergantung dari karakteristik segmentasi sistem bahasa yang bersangkutan (Trihardini, 2014).

Untuk lebih jelasnya lagi, grafem harus terlebih dahulu dibedakan dengan fonem.
Fonem merujuk pada bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi diucapkan, dituliskan dengan tanda /…/. Sedangkan grafem merujuk pada huruf yang melambangkan fonem tersebut, dituliskan dengan tanda <…>. Misalnya pada kata “Baju” terdiri atas 4 fonem yaitu /b/,/a/,/j/,/u/ dan juga kebetulan memiliki 4 grafem yaitu <b>,<a>,<j>,<u>. Namun, dapat kita perhatikan pada kata “Pirang” terdapat 5 fonem yaitu /p/,/i/,/r/,/a/,/ ƞ/ sedangkan grafemnya terdiri atas 6 grafem, yaitu <p>,<i>,<r>,<a>,<n>,<g>.

Grafem sangat erat hubungannya dalam dengan pembentukan suatu aksara. Secara etimologis, kata ”aksara” berasal dari bahasa Sansakerta yaitu ”a-” yang artinya tidak, dan ”khsara” yang artinya termusnahkan. Jadi, aksara adalah sesuatu yang tidak termusnahkan.

Berdasarkan karakteristik segmentasinya, aksara dapat dibagi menjadi 3 jenis (Trihardini, 2014):

  1. Aksara alfabetis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu fonem. Misalnya: aksara Latin, aksara Romawi yang dipakai dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman.
  2. Aksara silabis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu suku kata. Misalnya: aksara Jepang (Katakana, Hiragana)
  3. Aksara morfemis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu morfem. Morfem sebagai satuan terkecil penulisan, yang juga merupakan satuan terkecil bunyi dan makna. Misalnya: aksara Cina atau hanzi.

Pada beberapa aksara di dunia, terdapat istilah yang disebut dengan alograf. Alograf merupakan bagian dari grafem yang bentuk dari grafemnya dalam satuan tulis dapat berbeda-beda sesuai dengan posisinya. Misalnya pada aksara Hiragana dalam bahasa Jepang. Huruf hiragana つ (tsu) bila dalam suatu kata posisinya sebagai bagian dari pembentuk kata dasar seperti 待つ(Matsu = Menunggu), maka bentuk hurufnya standar penulisan biasa dalam huruf hiragana. Namun jika posisinya sebagai konsonan rangkap atau suara kembar (Salah satu sistem baca dalam bahasa Jepang), maka penulisannya akan berbeda. Ukurannya berubah menjadi sedikit kecil. Misalnya がっこう (Gatsukou dibaca Gakkou = Sekolah). (DS)

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2006. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara. Jakarta: Rajawali Pers.

Trihardini, Ayu dan Aprilia Ruby Wikarti. 2014. Diktat Mata Kuliah Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin, Universitas Negeri Jakarta.

Mengenal Pidgin

Standard

Lingua franca, istilah ini mungkin sangat sering kita temui. Namun sedikit dari kita yang pernah mendengar istilah pidgin. Apa itu pidgin?

Pidgin didefinisikan sebagai sebuah bahasa yang mengalami penyederhanaan sebagai akibat dari adanya hubungan antar penutur bahasa dengan latar belakang bahasa ibu yang berbeda.

“A pidgin is a language with no native speakers: it is no one’s first language but is a contact language. That is, it is the product of a multilingual situation in which those who wish to communicate must find or improvise a simple language system that will enable them to do so” (Wardhaugh, 2010:58).

Sehingga secara sederhana boleh dikatakan bahwa pidgin lebih mengarah kepada sebuah bahasa pergaulan atau contact language, bahasa yang terjadi karena situasi multibahasa. Pidgin tidak mempunyai penutur asli namun pidgin menjadikan suatu bahasa tertentu semisal bahasa Inggris atau bahasa lain sebagai bahasa yang dipakai dalam situasi yang menuntut adanya komunikasi antar kelompok masyarakat sosial dengan latar belakang bahasa yang berbeda. Dasar inilah yang kemudian mengalami penyederhanaan, artinya sistem atau kaidah yang ada berbeda dari bahasa dasar, karena pidgin harus memenuhi fungsinya sebagai alat komunikasi sosial. Maka definisi pidgin dapat disarikan menjadi dua, yaitu :

  • Pidgin merupakan variasi bahasa yang tidak memiliki penutur asli.
  • Pidgin adalah variasi bahasa yang bercirikan penyederhanaan atau simplification. Lazimnya aspek yang mengalami penyederhanaan adalah tata bahasa dan kosa kata.

Apabila diamati secara etimologis, istilah bahasa Inggris pidgin kemungkinan besar diambil dari kata benda business yang berarti perdagangan. Mula-mula, kata ini merupakan ragam yang penting sebagai bahasa bantu dalam sebuah kontak bahasa. Oleh karena pengaruh substratum Cina, perkembangan kata pidgin kemungkinannya adalah seperti berikut: /bisnis/ > /pizin/ > /pizin/ > /pidgin/ (Suhardi dkk, 1995). Selaras dengan pendapat Suhardi, Holmes (2001) menyatakan bahwa kata pidgin mungkin berasal dari business yang dilafalkan dalam bahasa Inggris pidgin yang berkembang pada bangsa Cina, atau mungkin dari bahasa Yahudi yaitu pidjom yang berarti perdagangan atau pertukaran. Kemungkinan juga kata pidgin berasal dari kombinasi dua huruf bahasa Cina yaitu péi dan tsˉi n yang bermakna membayar dengan uang. Bahasa pidgin akan muncul apabila dua penutur atau lebih mempergunakan sistem bahasa yang timbul akibat adanya situasi kebahasaan darurat sebagai media komunikasi.

  • 3 aspek yang harus di perhatikan, yaitu aspek linguistik, aspek sosial, dan aspek historis (Suhardi dkk, 1995)
  • Aspek linguistik – bahasa pidgin dilihat dari dua sudut pandang, yaitu bahasa kedua dan bahasa penyumbang.
  • Aspek sosial – bahasa pidgin muncul karena adanya kontak bahasa antara bangsa Eropa dan bangsa bukan Eropa.
  • Aspek historis – adanya interaksi antara kedua kelompok bahasa berbeda tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin ini untuk berkomunikasi

Jumlah bahasa pidgin lebih dari 100 di dunia. Kebanyakan pidgin ini dipengaruhi oleh bahasa-bahasa Eropa, pada umumnya Inggris, Spanyol. dan Prancis. Bahasa pidgin ini didapati di tiap lapisan masyarakat dan tiap situasi. Pidgin Inggris Cina, misalnya, bisa kita temui di Hongkong, Singapura, Washington, Melanesia, dan lain-lain. Pidgin Inggris Papua Timur dapat ditemui di Papua Nugini. Maka seperti yang dijelaskan semula bahwa pidgin berbeda pada tiap-tiap daerah.

Contoh ragam pidgin yang paling terkenal adalah pidgin Melanesia, seperti Tok Pisin di Papua Nugini yang sekarang sudah beralih menjadi kreol, Bislama di Vanuatu, dan pidgin di Solomon Island. Bahasa pidgin ini dipengaruhi bahasa Eropa seperti Inggris, Jerman, Portugis dan Melayu. Bahasa Eropa disebut sebagai base, sedangkan bahasa yang mempengaruhi tata bahasanya disebut substrate. Tata bahasa dan kosa kata pidgin pada umumnya sangat sederhana (Kushartanti, 2009: 62).

Di Indonesia hal ini banyak terjadi terutama di kawasan wisata atau perdagangan karena pidgin memang hanya muncul untuk kepentingan sesaat. Misalkan beberapa tempat di kawasan wisata bali yang bertutur dengan wisatawan asing dengan bahasa Inggris pidgin. Dasarnya adalah bahasa Inggris , lafalnya disesuaikan dengan bahasa Inggris seperti masas ( = message), tosen (= thousand) dll, juga ditemukan dalam beberapa kalimat semisal : buy me sir – belilah pada saya,Tuan! atau you want move? – anda ingin pindah? (do,to hilang). (RFM)

Daftar Pustaka

Brown, S. & Attardo, S. 2000.Understanding Language Structure, Interaction, and Variation. An Introduction to Applied Linguistics and Sociolinguistics for Nonspecialists. Michigan: The University of Michigan Press.

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda dan Pustaka Pelajar.

Wardhaugh, Ronald. 2006. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell Inc.

Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Suhardi, Basuki dkk. 1995. Teori dan Metode Sosiolinguistik. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.