Category Archives: Kegiatan Prodi

Tim Mandarin UNJ Ikuti Kompetisi Film Pendek Pemuda 2017

Standard

Mahasiswa-mahasiswi angkatan pertama dan ke dua Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ (2014 dan 2015) membentuk tim, mempersembahkan video pendek untuk berkompetisi pada Kompetisi Film Pendek Pemuda 2017 bertema “Youth Micro-screen Silk Road Situation” yang diselenggarakan Pusat Bahasa Mandarin Universitas Al Azhar Indonesia.

Video yang dipersiapkan adalah hasil rekam pada pelbagai kegiatan mahasiswa. Beberapa diantaranya yaitu kegiatan wushu dan KKL ke Semarang. Video juga dilengkapi dengan suara berbahasa Mandarin dan narasi terjemahan bahasa Indonesia. Yuk, dukung dengan membagi tautan serta memberikan jempol sebanyak-banyaknya.

Maju terus dalam karya, mahasiswa Mandarin UNJ!

Penerbitan Bahan Ajar Mandarin Semester 106

Standard

Proses belajar mengajar di perguruan tinggi memerlukan hadirnya buku teks. Buku teks atau buku ajar dapat berguna sebagai buku referensi utama ataupun buku penunjang kegiatan belajar mengajar mata kuliah tertentu. Dalam kegiatan belajar, mahasiswa memerlukan buku teks untuk mencapai pemahaman yang utuh dan menyeluruh. Dengan buku teks, mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada penjelasan pengajar dan mendapatkan kesempatan meninjau kembali pembelajaran sehingga pengetahuan yang dicapai lebih optimal. Dalam kegiatan mengajar, pemahaman, pengetahuan dan pengalaman pengajar terhadap buku teks akan membantu pengajar dalam menyusun, melaksanakan dan menilai program pengajaran (Tarigan, 1986:2). Pemilihan buku teks dengan isi yang berkualitas akan sangat membantu pengajaran mata kuliah yang ditunjangnya. Sebagai penunjang program pengajaran, pemakaian buku teks juga harus berkaitan dengan kurikulum. Oleh sebab itu, pemilihan buku teks yang relevan dengan mata kuliah dan kurikulum yang berlaku merupakan hal yang sangat penting.

Dalam memenuhi kebutuhan buku ajar, Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Jakarta memakai buku teks impor dari Tiongkok, diktat serta buku kompilasi sebagai penunjang. Pada semester 106, terbit 4 buku ajar dari PSPBM yaitu berupa: (1) Buku Kompilasi untuk Mata Kuliah Menulis IV, oleh Aprilia Ruby Wikarti; (2) Buku Latihan untuk Mata Kuliah Percakapan IV, oleh Ayu Trihardini; (3) Buku Kompilasi untuk Mata Kuliah Membaca dan Menulis Lanjut II, oleh Tim Dosen PSPBM; dan (4) Diktat Pengantar Fonologi dan Morfologi Bahasa Mandarin oleh Ayu Trihardini.

Saat ini, tim dosen PSPBM UNJ sedang menekuni pembuatan buku ajar keterampilan berbahasa Mandarin untuk semester mendatang. Diharapkan pada tahun depan, PSPBM UNJ dapat menerbitkan seri buku keterampilan berbahasa Mandarin tingkat I mencakupi: Menyimak I, Percakapan I, Membaca I, Menulis I dan Tata Bahasa I. (AT)

Publikasi Ilmiah Dosen di Tahun 2016

Standard

Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin mengucapkan selamat kepada dosen-dosen kami yang telah melakukan publikasi ilmiahnya pada jurnal dan seminar di tahun 2016.

  1. Rizky Wardhani, S.S., M.Pd., MTCSOL.: “Pemantapan Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran Bahasa Mandarin Di Sekolah Menengah Atas (SMA)” (Jurnal Alinea, FBS Universitas Negeri Jakarta Vol 2, No. 1 Tahun 2016) Link Jurnal
  2. Vanya Zelia, S.S., M.Pd.: “PREPOSITIONAL PHRASE ZAI AND CONG IN SENTENCE (AN ERROR ANALYSIS)” (Jurnal Alinea, FBS Universitas Negeri Jakarta Vol 2, No. 1 Tahun 2016) Link Jurnal
  3. Ayu Trihardini, M.A: “Analisis Kesalahan Konstruksi BA Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ”  (Seminar Nasional Mandarin VI 2016 “Pembelajaran Bahasa Mandarin dan Budaya Tiongkok”, Universitas Negeri Surabaya)

Pertunjukan Drama Kebudayaan Tionghoa (PDKT) II

Standard

drama-2-2 drama-2-4 drama-2-5 drama-2-6

Untuk ke dua kalinya, Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin (PSPBM) melaksanakan Pertunjukan Drama Kebudayaan Tionghoa. Pertunjukan ini merupakan tugas akhir dari Mata Kuliah Pengantar Kesustraan dan Kebudayaan Cina yang diampu oleh dosen PSPBM, Vanya Zelia, M.Pd. Pertunjukan drama dihadiri Dra. Sri Suhita, M.Pd. selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FBS sekaligus pegiat drama, serta dosen-dosen dan mahasiswa PSPBM UNJ.

Pada pentas kali ini, mahasiswa-mahasiswi PSPBM membawakan drama “Monster Tahun Baru” dan “Asal Mula Festival Pertengahan Musim Gugur.” Kedua kelompok membawakan lakon, menggarap dekorasi, properti, kostum dan tata rias dengan sungguh-sungguh.

Nampak pada Pertunjukan Drama Kebudayaan Tionghoa II, mahasiswa mampu mengaplikasikan pengetahuan kebudayaan Tionghoa yang diperoleh selama perkuliahan Mata Kuliah Pengantar Kesusastraan dan Kebudayaan Cina, diantaranya: (1) penggunaan warna riasan drama, yaitu warna putih untuk menggambarkan tokoh antagonis, warna merah untuk menggambarkan tokoh heroik dan pemberani, (2) pementasan permainan-permainan tradisional Cina pada adegan drama, (3) pernikahan adat dan lain sebagainya.

Masing-masing kelompok menyiapkan naskah 2 bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Mandarin. Pertunjukan drama dibawakan menggunakan Bahasa Mandarin. Tentunya, masih ada hal-hal yang perlu dibenahi terkait penggunaan bahasa Mandarin mahasiswa, beberapa kalimat ataupun adegan masih ada yang kurang tepat. Dalam hal ini Wakil Dekan III FBS menambahkan, penguasaan teks merupakan hal penting pada pertunjukan drama. Oleh sebab itu, teks harus dikuasai sebaik mungkin agar penghayatan karakter dan penguasaan panggung tidak terkendala. Kami berharap berlangsungnya kegiatan ini sebagai kegiatan rutin, menjadi bibit lahirnya daya kreasi mahasiswa terhadap ilmu bahasa Mandarin serta kebudayaan Cina yang menjadi kajiannya. (AT)

Diskusi Terbatas “Cara Mudah Belajar Bahasa Mandarin”

Standard

Penyelenggaraan perkuliahan di Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ telah memasuki tahun ke-3. Sebagai universitas negeri, kami menghadapi banyak tantangan. Salah satunya yaitu, sebagian besar mahasiswa kami sangat awam dengan bahasa Mandarin. Mengatasi hal tersebut, kami memandang perlu mengadakan sebuah diskusi mengenai pengetahuan bahasa Mandarin secara khusus.

Pada acara diskusi kali ini, kami mengundang Dr. Hendry Jurnawan, dosen Universitas Panca Bhakti, Pontianak  sebagai pembicara. Peserta diskusi yaitu mahasiswa angkatan 2016, yang saat ini masih duduk di semester 1. Diskusi diadakan pada hari Rabu, 16 November di gedung DE 103, Kampus A Universitas Negeri Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hendry Jurnawan menyampaikan kekagumannya atas prestasi yang diraih mahasiswa-mahasiswa PSPBM UNJ pada lomba National Mandarin Competition 2016.

Selain memberikan motivasi belajar, beliau juga mengungkapkan pendapatnya yang penting untuk kita renungkan bersama “Bahasa Mandarin bukanlah bahasa etnis tertentu, tapi sudah merupakan bahasa internasional. Siapapun dapat mempelajarinya.” (AT)

 

Kuliah Umum: Pemuda sebagai Agen Perubahan

Standard

Jumat 23 September 2016, Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin mengadakan Kuliah Umum bertemakan ‘Pemuda Sebagai Agen Perubahan’. Priska Hermin Leonny, S.S. (pendiri dan Direktur Lembaga Bahasa Mandarin SINO) didaulat menjadi nara sumber pada kuliah umum ke-3 ini. Kegiatan diikuti mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ angkatan 2014, 2015, dan 2016.
Acara dibuka oleh Ketua Prodi Pendidikan Ayu Trihardini, M.A. dan Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. Aceng Rahmat, M.Pd. Dekan menyampaikan bahwa kita sebagai pemuda, penting untuk memiliki cita-cita. Sesuai dengan pepatah Tiongkok: “Apabila cita-citamu sulit diraih, maka gantilah cara meraihnya. Bukan mengganti cita-cita.”. Cita-cita dapat dicapai dengan banyak cara, sehingga mahasiswa diminta untuk tidak cepat berputus asa. Agar dapat bertutur dengan bahasa Mandarin yang baik, mahasiswa harus bercita-cita pergi ke negara penuturnya yaitu Tiongkok.
Priska laoshi memaparkan masalah dan berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswi prodi. Sesi diskusi berlangsung aktif, mahasiswa menggunakan kesempatan ini untuk berinteraksi, menyampaikan pertanyaan menggunakan bahasa Mandarin. Usaha ini sangat dihargai oleh Priska laoshi. Menurut pendapat beliau, meskipun tergolong prodi baru, namun lafal dan pengucapan yang diujarkan mahasiswa PSPBM UNJ sangat baik. Pengucapan merupakan hal penting dalam pembelajaran bahasa Mandarin.
Berkaitan dengan tema, Priska laoshi beranggapan mahasiswa sebagai menjadi agen perubahan memiliki makna yang sangat luas. Mahasiswa harus selalu memiliki cara pandang dan pemikiran positif, harus dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna (berbuah banyak), juga harus berani melangkah. Agen perubahan menghasilkan karya nyata, maka mahasiswa harus berani mengambil kesempatan, kreatif, inovatif, tahan banting tidak mudah menyerah, dan memiliki standar tinggi untuk mencapai target. Yang terpenting, agen perubahan itu mau tetap harus belajar dan mau diajar!

Kami sebagai pemuda, kami siap berubah! (RFM/YI/VZ)

1044581_10210601832947936_7059365375534132225_n 14358785_10210601835467999_2945994049624686566_n 14359117_10210601832027913_8707479562263391287_n 14449800_10210601831867909_2966326352646479465_n

Drama Kebudayaan Tionghoa Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ Angkatan 2014

Standard

 

Pada tanggal 8 Januari 2016, mahasiswa angkatan pertama Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin (angkatan 2014) unjuk gigi menampilkan akting terbaik dalam melaksanakan kegiatan Drama Kebudayaan. Acara dibuka oleh Wakil Dekan 3 Dra. Sri Suhita, M.Pd. dan Ketua Prodi Ayu Trihardini, M.A. Turut hadir pula tim dosen PSPBM serta mahasiswa PSPBM angkatan 2015.

Pementasan Drama Kebudayaan Tionghoa yang merupakan tugas akhir mata kuliah Pengantar Kebudayaan dan Kesusastraan Cina, direncanakan menjadi agenda rutin yang diadakan setiap semester ganjil.

Dalam pementasan perdana Drama Kebudayaan Tionghoa, mahasiswa angkatan 2014 dibagi menjadi dua kelompok dengan pentas cerita yang berbeda. Seluruh dialog menggunakan bahasa Mandarin.

Kelompok pertama memainkan cerita asal-usul dari Qi Xi Festival yang disebut sebagai Festival Hari Valentine warga Tionghoa. Kelompok ke dua memainkan cerita Sampek Engtay. Latihan intensif dilakukan oleh para mahasiswa demi dapat memberikan penampilan yang maksimal dan memukau. Setiap kelompok juga tampil lengkap dengan kostum dan properti. Properti diproduksi sendiri, mulai dari topi, mahkota, hiasan baju, serta barang-barang lainnya sebagai hasil karya kreatif mahasiswa.

Seperti apakah kedua cerita yang dipentaskan? Berikut adalah cerita asal usul Festival Hari Valentine Cina dan kisah cinta Liang Shanbo dan Zhu Yingtai yang dikutip dari sebuah sumber :

Asal Usul Festival Qi Xi (Hari Valentine Tionghoa)

Festival Qi Xi (Qi Xi Jie [七夕节]) atau disebut juga dengan Festival Qi Qiao (Qi Qiao Jie [乞巧节]) merupakan salah satu festival dalam budaya Tionghoa. Festival Qi Xi sering dianggap sebagai Hari Valentine Tionghoa. Pada Malam Festival Qi Xi yaitu tepatnya bulan 7 tanggal 7 dalam penanggalan Imlek, gadis-gadis muda melakukan permohonan dan doa agar dapat meningkatkan keterampilan seni mereka dan juga memohon supaya mendapatkan suami yang setia dan baik serta mencintainya.

Asal Usul Festival Qi Xi berasal dari sebuah cerita Rakyat yang sangat Romantis mengenai Niu Lang [牛郎] dan Zhi Nu [织女] yaitu si Gembala Sapi dan Gadis Penenun. Cerita Nu Lang dan Zhi Nu ini juga merupakan salah satu dari 4 cerita Percintaaan Romantis China.

Cerita Niu Lang (Si Gembala Sapi) dan Zhi Nu (Gadis Penenun)

Pada Zaman Dinasti Zhou, di desa Niu Jia [牛家] kota Nan Yang [南阳] terdapat seorang Pemuda yang rajin dan jujur. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sehingga Pemuda tersebut tinggal bersama Kakaknya. Istri Kakaknya sangat kejam dan selalu memaksa pemuda tersebut melakukan semua pekerjaannya. Pemuda tersebut kemudian dikenal dengan nama Niu Lang yaitu Pemuda  Gembala Sapi.

Pada suatu Musim Gugur, Istri kakaknya menyuruh Niu Lang menggembala 9 ekor sapi, tetapi pulang harus membawa 10 ekor sapi. Kalau tidak, Niu Lang tidak diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan sangat terpaksa, Niu Lang menuruti perintah Istri Kakaknya.

Niu Lang menggembala kesembilan ekor sapi tersebut ke dalam gunung yang penuh dengan rumput untuk makanan sapi. Niu Lang kemudian duduk di bawah pohon dengan sedih dan memikirkan cara bagaimana dapat membawa pulang 10 ekor sapi. Tiba-tiba seorang pria tua yang berambut putih berdiri di depannya dan menanyakan kepada Niu Lang mengapa tampak sedih. Setelah mengetahui penyebab kesedihan Niu Lang, pria tua tersebut kemudian senyum dan menasehatinya untuk pergi ke Gunung Fu Niu [伏牛山].  Di sana terdapat seekor sapi yang sakit dan jika dirawat dengan baik hingga sembuh, sapi tersebut dapat dibawa pulang ke rumahnya.

Niu Lang kemudian menuruti nasehat pria tua tersebut dan berangkat ke Gunung Fu Niu. Akhirnya dia menjumpai seekor sapi tua yang sakitnya sangat parah. Niu Lang dengan sabar merawatnya dan memberikannya makan hingga pada hari ke-3, Kesehatan sapi tua tersebut mulai pulih dan mengangkatkan kepalanya. Sapi tua tersebut kemudian memberitahukan kepada Niu Lang bahwa dia (sapi tua) adalah Dewa Sapi Abu-abu [灰牛大仙] yang tinggal di Alam Dewa (Langit) tetapi karena melanggar aturan Alam Dewa (Langit) sehingga dihukum untuk turun ke alam manusia (bumi ini). Sapi tua tersebut mengatakan bahwa luka kakinya harus dicuci dengan air yang berisikan ratusan jenis bunga agar dapat sembuh. Niu Lang kemudian menurutinya dan merawat sapi tua tersebut dengan sabar hingga satu bulan. Sapi tua tersebut kemudian sembuh total dan mengikuti Niu Lang pulang ke rumahnya.

Sepulangnya ke rumah, Istri Kakak Niu Lang tetap bertindak kejam terhadapnya. Beberapa kali ingin membunuhnya, tetapi diselamatkan oleh si Sapi Tua. Akhirnya Niu Lang diusir oleh Istri Kakaknya dari rumah dan tidak memperbolehkannya pulang untuk selamanya. Niu Lang bersama dengan Sapi Tua yang diselamatkanya tersebut  kemudian terpaksa harus meninggalkan rumah Kakaknya.

Pada suatu hari, Dewi Penenun (Zhi Nu[织女]) beserta Dewi-dewi lainnya bermain ke alam manusia (bumi). Atas bantuan si Sapi Tua, Niu Lang berhasil berkenalan dengan Zhi Nu dan timbulah rasa cinta diantara mereka berdua. Zhi Nu kemudian diam-diam turun ke alam manusia dan menjadi istrinya Niu Lang. Zhi Nu juga membawa ulat sutera dari alam dewa dan mengajari manusia memelihara ulat sutera tersebut serta mengajarkan cara mengambil benang dari ulat sutera tersebut. Zhi Nu juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara menenun kain sutera yang baik dan cantik.

Setelah menikah, Niu Lang dan Zhi Nu hidup dengan bahagia, Niu Lang bercocok tanam dan Zhi Nu menenun kain sutera. Mereka memiliki seorang anak putra dan seorang anak putri. Tetapi kebahagian mereka tidak dapat berlangsung dengan lama. Tidak lama kemudian Kaisar Langit di alam Dewa mengetahuinya, Permaisuri Kaisar Langit (Wang Mu Niang-Niang [王母娘娘]) turun ke alam manusia dan memaksa Zhi Nu untuk pulang ke alam dewa.   Sepasang suami dan istri yang saling mencintai akhirnya terpaksa harus berpisah.

Niu Lang sangat bimbang dan tidak tahu bagaimana caranya untuk mengejar Istrinya ke alam dewa (langit), tiba-tiba Niu Lang teringat akan kata Sapi Tua bahwa sandal yang pernah dibuatnya dari kulit Sapi tua tersebut dapat membantunya naik ke langit. Niu Lang kemudian membawa kedua anaknya mengejar Zhi Nu ke langit (alam dewa). Begitu hampir mendekatinya, tiba-tiba Permaisuri Kaisar Langit menciptakan sebuah sungai langit yang luas untuk memisahkan mereka berdua. Niu Lang dan Zhi Nu yang dipisahkan oleh sungai langit tersebut hanya bisa menangis dengan penuh kesedihan. Percintaan Niu Lang dan Zhi Nu ini menyentuh hati puluhan juta burung-burung Murai (Xi Que [喜鹊]) yang kemudian membentuk sebuah Jembatan burung Murai untuk mempertemukan Niu Lang dan Zhi Nu diatas jembatan burung Murai tersebut. Permaisuri Kaisar Langit tidak berdaya melihat kejadian tersebut, akhirnya menyetujui mereka berdua bertemu sekali dalam setahun yaitu setiap malam ke-7 pada bulan 7 menurut penanggalan Imlek.

Oleh karena itu, setiap malam ketujuh (7) bulan tujuh (7), gadis-gadis muda menatap ke langit dan mencari bintang Niu Lang (bintang Altair) dan bintang Zhi Nu (bintang Vega) dengan harapan dapat melihat pertemuan Niu Lang dan Zhi Nu sambil berdoa supaya keterampilan seni mereka dapat sebaik Zhi Nu dan mendapatkan suami yang setia dan mereka cintai. Dengan demikian tradisi tersebut diadakan secara turun temurun dan akhirnya menjadi suatu Festival yang disebut dengan Festival Qi Xi.

Mengutip dari sumber : http://dinaviriya.com/asal-usul-festival-qi-xi-niulang-zhinu-hari-valentine-tionghoa/

 

Eternal Love (梁山伯 祝英台 [Liang Shan Bo dan Zhu Ying Tai])

Seorang gadis berusia 16 tahun, Zhu Ying Tai, berhasil meyakinkan orang tuanya untuk mengirimnya ke sebuah sekolah di Hangzhou dengan menyamar sebagai seorang pria. Meski sang ayah tidak menyetujuinya, tetapi Yingtai bersikeras. Dalam perjalanannya ke sekolah, dia bertemu dengan pria berumur 17 tahun, Liang Shan Bo, yang akan bersekolah di tempat yang sama. Mereka bersumpah akan bersaudara dan menimba ilmu selama tiga tahun bersama-sama. Selama kurun waktu itu, mereka berdua memiliki pertemanan yang sangat erat. Ying Tai pun perlahan-lahan jatuh hati kepada Shan Bo, yang merupakan seorang kutu buku. Shan Bo tidak menyadari bahwa temannya menaruh hati padanya.

Ketika ia dipanggil pulang oleh ayahnya, Ying Tai membuka rahasia pada istri gurunya. Ying Tai memintanya sebagai pasangan yang cocok untuknya dan Shan Bo serta memberikan sebuah anting-anting permata sebagai hadiah untuk diberikan pada Shan Bo. Mengetahui bahwa Ying Tai adalah seorang gadis, Shan Bo pergi ke rumah Ying Tai. Keduanya bertemu sebagai gadis dan laki-laki. Namun, Ying Tai memberitahu Shan Bo sebuah kabar sedih bahwa ia telah dijodohkan dengan pria dari keluarga Ma bernama Wen Zai. Ia tidak bisa menolak permintaan dari kedua orang tuanya dan merasa sangat sedih. Karena kaget, Shan Bo jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Mengetahui kematian Shan Bo, Ying Tai juga merasa sangat sedih. Pada saat hari pernikahannya, Ying Tai meminta izin untuk berziarah ke makam Shan Bo. Pada saat itu terjadi gempa bumi dan makam dari Shan Bo terbelah dua. Dari dalam makam muncul roh Shan Bo tampak sangat jelas. Ying Tai berlari ke dalam makam dan angin puyuh menimbun jasad mereka berdua. Dari makam tersebut kemudian terbang sepasang kupu-kupu ke langit yang diyakini adalah arwah mereka berdua. Sejak saat itu, warga sekitar jika melihat sepasang kupu – kupu terbang di langit beranggapan bahwa mereka adalah Liang Shanbo dan Zhu Yingtai. (LN)

Mengikutip dari sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/The_Love_Eterne

 

Kunjungan Sebasa POLRI ke Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ

Standard

12991034_10209274510445703_4401082008014072020_n 13015181_10209274512325750_6658129677281590963_n 13055278_10209274515845838_3029795100063024358_o

“有朋自远方来, 不亦乐乎”

Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin kedatangan tamu!

Sekolah Bahasa (Sebasa) POLRI merupakan sebuah institusi yang sudah akrab dengan pihak UNJ, khususnya Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin. Sudah sejak lama, kedua belah pihak berkeinginan saling mengunjungi. Akhirnya rencana tersebut dapat juga terlaksana!

Pada hari Selasa, 19 April 2016 sebanyak 13 siswa dan 4 pengajar Sebasa POLRI berkunjung ke PSPBM. Kunjungan berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 11.00. Meskipun terhitung singkat, namun sangat seru! Dalam kunjungan tersebut, siswa Sebasa dan mahasiswa PSPBM angkatan 2014 belajar bersama melalui kegiatan interaktif.

“Kami sangat berharap akan ada kunjungan balasan ke Sebasa!” tutur salah satu mahasiswi PSPBM. Prodi juga menyambut baik aspirasi tersebut. Semoga dapat terlaksana dalam waktu dekat! (AT)