Grafem dan Jenis Aksara

Standard

Seringkali kita mendengar istilah-istilah seperti huruf, grafem dan aksara. Jika kita membicarakan ketiga hal tersebut, maka kita juga membicarakan mengenai tulisan.

Tulisan merupakan representatif dari bahasa lisan yang bersifat sekunder. Pada hakikatnya, bahasa merupakan perwujudan bunyi. Dengan kata lain, manusia dapat berkomunikasi tanpa tulisan. Namun pada kehidupan modern sekarang ini, peran dan fungsi tulisan sangatlah besar. Bahkan seringkali perkembangan suatu masyarakat dikaitkan dengan kemampuannya membuat sistem tulisan atas bahasa lisannya.

Jika bahasa lisan berkaitan dengan bunyi, maka bahasa tulis tentu berkaitan dengan huruf. Pembahasan mengenai huruf ini dipelajari di bidang grafologi.

Secara etimologis, kata “grafologi” berasal dari kata graf, yaitu satuan terkecil dalam aksara yang belum ditentukan statusnya, dan logos, yang berarti ilmu.

Dalam bidang grafologi, terdapat istilah grafem yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah satuan terkecil sebagai pembeda dalam sebuah sistem aksara. Grafem lebih tepatnya dapat diartikan sebagai satuan terkecil dalam aksara yang menggambarkan fonem, suku kata ataupun morfem, tergantung dari karakteristik segmentasi sistem bahasa yang bersangkutan (Trihardini, 2014).

Untuk lebih jelasnya lagi, grafem harus terlebih dahulu dibedakan dengan fonem.
Fonem merujuk pada bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi diucapkan, dituliskan dengan tanda /…/. Sedangkan grafem merujuk pada huruf yang melambangkan fonem tersebut, dituliskan dengan tanda <…>. Misalnya pada kata “Baju” terdiri atas 4 fonem yaitu /b/,/a/,/j/,/u/ dan juga kebetulan memiliki 4 grafem yaitu <b>,<a>,<j>,<u>. Namun, dapat kita perhatikan pada kata “Pirang” terdapat 5 fonem yaitu /p/,/i/,/r/,/a/,/ ƞ/ sedangkan grafemnya terdiri atas 6 grafem, yaitu <p>,<i>,<r>,<a>,<n>,<g>.

Grafem sangat erat hubungannya dalam dengan pembentukan suatu aksara. Secara etimologis, kata ”aksara” berasal dari bahasa Sansakerta yaitu ”a-” yang artinya tidak, dan ”khsara” yang artinya termusnahkan. Jadi, aksara adalah sesuatu yang tidak termusnahkan.

Berdasarkan karakteristik segmentasinya, aksara dapat dibagi menjadi 3 jenis (Trihardini, 2014):

  1. Aksara alfabetis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu fonem. Misalnya: aksara Latin, aksara Romawi yang dipakai dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman.
  2. Aksara silabis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu suku kata. Misalnya: aksara Jepang (Katakana, Hiragana)
  3. Aksara morfemis: aksara yang setiap grafem atau hurufnya menggambarkan satu morfem. Morfem sebagai satuan terkecil penulisan, yang juga merupakan satuan terkecil bunyi dan makna. Misalnya: aksara Cina atau hanzi.

Pada beberapa aksara di dunia, terdapat istilah yang disebut dengan alograf. Alograf merupakan bagian dari grafem yang bentuk dari grafemnya dalam satuan tulis dapat berbeda-beda sesuai dengan posisinya. Misalnya pada aksara Hiragana dalam bahasa Jepang. Huruf hiragana つ (tsu) bila dalam suatu kata posisinya sebagai bagian dari pembentuk kata dasar seperti 待つ(Matsu = Menunggu), maka bentuk hurufnya standar penulisan biasa dalam huruf hiragana. Namun jika posisinya sebagai konsonan rangkap atau suara kembar (Salah satu sistem baca dalam bahasa Jepang), maka penulisannya akan berbeda. Ukurannya berubah menjadi sedikit kecil. Misalnya がっこう (Gatsukou dibaca Gakkou = Sekolah). (DS)

Daftar Pustaka

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2009. Fonologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2006. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Aksara. Jakarta: Rajawali Pers.

Trihardini, Ayu dan Aprilia Ruby Wikarti. 2014. Diktat Mata Kuliah Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin, Universitas Negeri Jakarta.

Advertisements

About mandarinunj

Majalah dinding Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Jakarta. Bagi mahasiswa-mahasiswi Prodi yang ingin mengirimkan karya, dapat menghubungi Redaksi Mading angkatan 2015. Penanggung Jawab: Ayu Trihardini, M.A. (Ketua Prodi) Kepala Redaksi dan Editor: Vanya Zelia, S.S., M.Pd. (Dosen Pembimbing BEM) Redaksi: Ibnu Indrianto, Yolanda Iswardani

Comments are closed.