Wushu: dari Tiongkok ke Universitas Negeri Jakarta

Standard

z

Wushu berasal dari kata wu “ilmu perang” dan shu “seni”. Sehingga wushu atau martial arts dapat diartikan sebagai seni untuk berperang atau seni beladiri. Selain seni beladiri, melalui wushu kita juga mempelajari kebudayaan Tiongkok.

Wushu merupakan seni beladiri dari Tiongkok, mempunyai sejarah yang panjang. Sejak awal perkembangan wushu, pelatihan wushu terbagi menjadi dua bagian. Pertama, untuk ketahanan fisik, disebut qigong atau ilmu pernapasan. Kedua, untuk bertempur secara fisik, disebut waigong atau teknik tempur.

Salah satu manfaat wushu adalah mengolah diri dan raga. Kegunaan lain, untuk pengobatan dan mencapai ketentraman jiwa. Seiring dengan perkembangannya, wushu yang dahulu dikenal sebagai seni bela diri mulai berkembang menjadi ilmu olahraga. Dengan kata lain, tradisi wushu berubah dari arena perang ke arena olahraga yang dipertandingkan.

Wushu memiliki materi pembelajaran yang kaya, dengan golongan yang beragam. Setiap golongan mempunyai gaya, teknik, dan karakter tersendiri. Namun pada umumnya teknik saat berlatih dan pelaksanaannya terdapat banyak persamaan.

Wushu mengandung paham Yin-Yang “positif-negatif” sebagai dasar pembelajaran. Maka wushu mengutamakan kekuatan sekaligus kelenturan yang pergerakannya saling menunjang. Pada umumnya gerakan wushu tidak harus impulsif, kuat dan bertenaga. Dalam wushu, kita harus menyimpan tenaga terlebih dahulu, baru sepenuhnya mengeluarkan kekuatan.

Wushu mengutamakan penyatuan tenaga dari dalam dan luar. Keharmonisan antara gaya yang alamiah, gerak tangan, mata dan tubuh serta membuat olahraga ini penuh kharisma dan wibawa. Wushu selalu memperhatikan penyaluran chi “energi” dalam, otot dan tendon secara terus menerus, tidak terputus-terputus.

bFakta-fakta unik mengenai wushu yaitu :

Dalam Wushu terdapat 5 elemen yang mempunyai arti, diantaranya:

  1. Air:  Melambangkan kehidupan dan kelembutan. Air memberi makan tumbuhan dan bentuk air sendiri yang fleksibel, selalu sesuai dengan wadahnya.
  2. Kayu: Melambangkan tulang dan otot, sebagai energi dari kehidupan. Jika terkena api akan mengakibatkan terbentuknya panas sebagai te
    naga (otot).
  3. Api: Melambangkan kekuatan dan ketangkasan. Api memberi nutrisi dari hasil pembakaran yang membuat pembaharuan dalam kemajuan.
  4. Bumi: Melambangkan pertahanan, memberikan tempat bagi berbagai unsur untuk berkembang.
  5. Logam: Melambangkan penggunaan senjata, mengkombinasikan berbagai unsur yang bermanfaat untuk menguasai berbagai senjata yang sangat penting bagi wushu.

Hubungan berbagai unsur dalam wushu adalah air mendinginkan api, api menempah logam, logam memotong kayu, kayu tumbuh dari bumi, bumi mengontrol air. Semua unsur ini saling berhubungan satu sama lain.

Sejak tahun 2014 tepatnya pada tanggal 10 April, Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ telah mengadakan sebuah ekstrakulikuler wushu. Diadakan setiap hari Jumat, bertempat di panggung Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNJ. Latihan dimulai pada pukul 5 hingga pukul 6 sore. Pelatih wushu Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin yaitu Yang Laoshi merupakan guru bantu dari Konfusius Institute UAI Jakarta, yang mempelajari wushu secara institusional.

y

Tim wushu Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin tampil di ARTEC Fair 2015, FBS UNJ

Wushu bermanfaat untuk tubuh juga bermanfaat untuk pertahanan diri. Wushu merupakan ekskul pertama di Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ. Melalui ekskul wushu, diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa mengenai seni bela diri Tiongkok serta menjadi wadah pertukaran kebudayaan Tiongkok-Indonesia. Hingga saat ini, tim wushu Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin UNJ telah tampil di pelbagai acara seperti Art, Education and Culture (ARTEC) di bulan Mei 2015, Bakti Sosial dan Acara Kumpul Satu Keluarga (BAKSO AKSARA) di bulan November 2015 dan lain-lain.  (LNA)

Advertisements

About mandarinunj

Majalah dinding Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Universitas Negeri Jakarta. Bagi mahasiswa-mahasiswi Prodi yang ingin mengirimkan karya, dapat menghubungi Redaksi Mading angkatan 2014. Penanggung Jawab: Ayu Trihardini, M.A. (Ketua Prodi) Kepala Redaksi dan Editor: Vanya Zelia, S.S., M.Pd. (Dosen Pembimbing BEM) Redaksi: Putri Sri Maijayanti, Luthfia Nabilla.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s